Khilafah vs demokrasi

Edukasi sistem pemerintahan islam

Pemilihan presiden sebentar lagi, tahun 2018 terjadi pilkada di jawa dan kota besar lainnya yang menelan biaya skitar 30an Trilyun.

Pilkada di jawa sangat menentukan kemenangan pada pilpres 2019. Apalagi saat ini ramai tagar (#) #2019gantipresiden tentu akan memberi warna baru dalam gelaran pilpres 2019 ini.

Sejak reformasi perubahan bangsa ini untuk mensejahterakan rakyat masih terbilang jauh dari sukses. Rakyat miskin semakin bertambah, lapangan kerja semakin sulit didapat, pendidikan semakin tidak jelas dalam menghasilkan anak bangsa yang cerdas dan kritis.

Dari segi budaya, tingkah pola generasi muda semakin ancur dengan adanya serangan budaya K-pop, budaya permisifisme (serba boleh) melahirkan prilaku menyimpang seperti sek bebas, l6bt, individualistis, dan prilaku lainnya.

Melihat kompleksnya permasalahan bangsa, diperlukan konsep yang jelas dan detail bagaimana menyelesaikan masalah bangsa. Inilah kunci utama agar bisa memenangi pilpres 2019.

Sebuah konsep yang jelas dan detail tentunya tidak ambil dari konsep sebelumnya yang tambal sulam (kapitalis – liberalis) tetapi konsep yang telah teruji secara empiris berhasil mensejahterakan umat manunia.

Islam adalah jawabannya.

Konsep itu tidak lain berasal dari Islam, yang mengajarkan detail bagaimana sistem negara yang dilandasi keimanan dan ketaqwaan kepada Allah. Sistem jnilah yang akan mampu mengeluarkan Indonesia dari krisis multidimensi.

Jadi isu dalam kampanye harus mempopulerkan Islam sebagai solusi bangsa, merupakan langkah selanjutnya yang bisa memenangi pilpres 2019.

Tugas ini mestinya dilakukan oleh mesin politik yang bernama partai politik untuk bisa melakukan penetarasi edukasi ditengah umat, memahamkan Islam sebagai sistem bernegara dibawah khalifah. Sehingga umat paham posisi Islam sebagai sistem yang harus di wujudkan, dan tidak hanya terkotak pada satu wilayah, namun tersebar ke seluruh dunia. Itulah sistem khilafah yang merupakan sistem pemerintahan islam warisan Rasulullah SAW dalam mengatur umat bagaimana hidup di dunia.

Sayangnya banyak parpol yang enggan membawa isu ini terutama pada tahun politik. Padahal ini merupakan alternatif cara dan isu yang bisa diangkat untuk meningkatkan popularitas partai atau calon yang di usung.

Apalagi sejak Indonesia mengalami reformasi, ide tentang Islam sebagai alternatif sistem kehidupan belum sepenuhnya diambil oleh parpol Islam peserta pemilu. Sehingga hasilnya bisa ditebak parpol Islam kalah dalam pilpres.

Sudah saatnya parpol Islam melakukan fungsinya yakni edukasi politik. Khusus bagi parpol Islam peserta pemilu, harus lantang menyerukan Islam sebagai solusi bangsa diimbangi dengan edukasi kepada umat kewajiban dan urgensi terwujudnya sistem pemerintahan dalam mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara.

Dalam waktu setahun, insyaAllah dukungan umat akan semakin besar untuk penerapan syariah Islam di Indonesia dan disebarkan ke seluruh dunia.

Indonesia yang menerapkan sistem pemerintahan Islam akan menjadi bangsa yang besar dan mendunia. Para pasukan elitenya akan bangga membela agama Allah dan tentunya kejayaan Islam akan terwujud. Inilah sejatinya pentingnya parpol Islam dalam melakukan edukasi politik Islam.

Jangan hanya saat tahun politik saja melalukan edukasi, semestinya sepanjang waktu parpol melaksanakan edukasi politik Islam. Sehingga terwujud ghirah (spirit) untuk memenangkan Islam, semangat tahajjud tidak pernah kendor, apalagi semangat dan atmosfir belajar dan menjalankan isi Al Qur’an akan senantiasa terjaga. Inikan yang kita inginkan?!

So, mumpung masih ada waktu, edukasi politik Islam kepada umat dengan mencampakkan sistem demokrasi masih relevan untuk dilakukan. Reuni aksi 212 pada Desember 2018 nanti akan menjadi momentum menyamakan pemikiran, perasaan dan standar kebenaran umat hanya pasa Islam.

Aksi212

Aksi bela islam 212

Jika aksi 212 dipicu dengan penistaan terhadap ayat dalam surat Al Maidah, maka saat reuni 212 umat akan semakin paham bahwa Al Qur’an adalah mukzijat yang Allah berikan untuk di jalankan dalam kehidupan. Tidak boleh ditinggalkan apalagi dikalahkan oleh undang undang yang berlawanan dengan isi Al Qur’an dan as sunnah.

Sekarang yang jadi PR, maukah parpol islam peserta pemilu mengambil kesempatan ini??