Keutamaan I’tikaf dan ibadah yang lebih baik darinya selama 10 tahun

Pengertiaan I’tikaf

I’tikaf adalah tinggal di dalam masjid dengan niat I’tikaf. Menurut imam Abu Hanifah  ada 3 macam I’tikaf yaitu:

  1. I’tikaf wajib, disebabkan karena nadzar seperti perkataan seseorang “apabila pekerjaan saya selesai,maka saya akan melaksanakan I’tikaf sekian hari”. Maka ini hukumnya wajib atasnya untuk ditunaikan.
  2. I’tikaf sunnah, yakni selama 10 hari terakhir di bulan Ramadhan, sebagaimana kebiasaan Rasulullah SAW yang melakukan I’tikaf selama 10 hari ini.
  3. I’tikaf nafil, yaitu I’tikaf yang tidak ditentukan waktu dan harinya. Kapanpun bisa dilaksanakan, sehingga walaupun seseorang berniat melakukan I’tikaf seumur hidupnya hal itu diperbolehkan.

Waktu pelaksanaan I’tikaf para ulama berbeda pendapat. Menurut imam abu Hanifah, tidak boleh beri’tikaf kurang dari satu hari, namun menurut imam Muhammad (Muhammad Zakariya al Kandhalawi) boleh beri’tikaf walaupun dalam masa yang singkat. Oleh karena itu dibenarkan bagi setiap orang setiap masuk ke masjid agar berniat I’tikaf menurut kadar lamanya kesibukan dia dalam melaksanakan shalat dan ibadah lainnya.

Pahala I’tikaf sangat banyak sehingga Rasulullah sendiri menjaganya. Imam ibnul qoyyim berkata, “maksud I’tikaf adalah menghubungkan ruh dan hati orang yang beri’tikaf dengan Allah SWT., sehingga menumbuhkan kecintaan kepada-Nya”.

Tempat yang paling afdhal bagi laki-laki untuk melakukan I’tikaf adalah masjidil haram, masjid nabawi al munawarah, kemudian masjid baitul maqdis palestina, kemudian masjid jami’ yang biasa digunakan untuk sholat jum’at, kemudian surau atau mushollah.

Sedangkan bagi wanita, hendaknya ber’tikaf di mushollah di dalam rumahnya, atau tempat khusus untuk sholat yang ada di dalam rumah. Apabila tidak terdapat mushollah ini, maka dia dapat menciptakan satu ruangan khusus untuk beri’tikaf. Inilah kemudahan I’tikaf bagi wanita yang jarang dilakukan di zaman sekarang.

Amalan yang lebih baik dari i’tikaf selama 10 tahun

Pernahkan Anda membayangkan jika…

Membantu meringankan kesulitan orang lain…

Membuat orang yang lapar kenyang…

Membantu orang yang terlilit utang bebas dari hutang-hutangnya…

membuat orang lain terbebas dari krisis air bersih…

semua aktivitas di atas, lebih baik dari melakukan ibadah i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan penuh.

Jika Anda pernah mikirkan hal-hal tersebut diatas, anda memiliki semangat yang sama dengan saya untuk membantu orang lain yang kesulitan. Saya yakin amalan tersebut adalah amalan yang berkah dan mendatangkan investasi pahala yang hasilnya dapat kita nikmati kelak di Akhirat. Disaat harta yang banyak tidak lagi bermanfaat, disaat pangkat dan jabatan tidak lagi berpengaruh.. Yang tersisa adalah amalan baik atau buruk yang harus kita pertanggungjawabkan dipengadilan Allah sang Pencipta Manusia.

Dalam hadits Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَاللَّهُ فِى عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِى عَوْنِ أَخِيهِ

Allah senantiasa menolong hamba selama ia menolong saudaranya.” (HR. Muslim no. 2699).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

وَمَنْ كَانَ فِى حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِى حَاجَتِهِ

Siapa yang biasa membantu hajat saudaranya, maka Allah akan senantiasa menolongnya dalam hajatnya.” (HR. Bukhari no. 6951 dan Muslim no. 2580).

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً , أَوْ تَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا , أَوْ تَطْرُدُ عَنْهُ جُوعًا , وَلأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخِ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ يَعْنِي مَسْجِدَ الْمَدِينَةِ شَهْرًا

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan utangnya atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini -masjid Nabawi- selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani di dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan sebagaimana disebutkan dalam Shahih Al Jaami’ no. 176).

Dari hadits diatas kita ketahui bagaimana Rasulullah SAW sangat menganjurkan untuk  membahagiakan orang lain dan melepaskan kesulitan mereka adalah lebih baik dari i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan lamanya.

keutamaan i'tikaf bulan ramadhan 1438 HAl Hasan Al Bashri pernah mengutus sebagian muridnya untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesulitan. Beliau mengatakan pada murid-muridnya tersebut, “Hampirilah Tsabit Al Banani, bawa dia bersama kalian.” Ketika Tsabit didatangi, ia berkata, “Maaf, aku sedang i’tikaf.” Murid-muridnya lantas kembali mendatangi Al Hasan Al Bashri, lantas mereka mengabarinya. Kemudian Al Hasan Al Bashri mengatakan, “Wahai A’masy, tahukah engkau bahwa bila engkau berjalan menolong saudaramu yang butuh pertolongan itu lebih baik daripada haji setelah haji?”

Lalu mereka pun kembali pada Tsabit dan berkata seperti itu. Tsabit pun meninggalkan i’tikaf dan mengikuti murid-murid Al Hasan Al Bashri untuk memberikan pertolongan pada orang lain. (Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 294).

Dari Ibnu Abbas r.a., bahwa suatu ketika ia beri’tikaf di masjid Rasulullah saw. lalu seseorang datang dan memberi salam kepadanya, kemudian duduk. Ibnu Abas r. a. berkata kepadanya, “Hai fulan, aku melihatmu dalam keadaan gelisah dan sedih. ” Dia berkata, “Benar, wahai putera paman Rasulullah. Aku mempunyai tanggungan utang kepada seseorang. Demi kemuliaan penghuni kubur ini (maksudnya kubur Rasulullah saw.), aku tidak sanggup melunasinya.”.

Ibnu Abbas r.a, berkata, “Bolehkan aku berbicara kepadanya mengenaimu?”. Dia menjawab, “Silakan, jika menurutmu itu adalah hal yang pantas.”. Maka Ibnu Abbas r.a. memakai sandalnya kemudian keluar dari Masjid. Orang itu berkata, “Apakah engkau lupa yang sedang engkau lakukan (beri’tikaf) ?”. Ibnu Abbas r.a. menjawab, “Tidak, tetapi sesungguhnya aku telah mendengar penghuni kubur ini dalam waktu yang belum lama – maka keluarlah air mata dari kedua matanya – telah bersabda,

عَنِ ابْنِ عَبَّاسَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ  ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قاَلَ : « مَنْ مَشَى فِي حَاجَةِ أَخِيْهِ كَانَ خَيْرًا لَهُ مِنَ اعْتِكَافِ عَشْرِ سِنِيْنَ ، وَمَنِ اعْتَكَفَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ الله جَعَلَ اللهُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ النَّارَ ثَلاَثَ خَنَادِقَ ، كُلُّ خَنْدَقٍ أَبْعَدُ مِمَّا بَيْنَ الْخَافِقَيْنِ. (رواه الطبراني والحاكم وقال صحيح الإسناد)

Dari Ibnu Abbas ra dari Nabi saw Beliau bersabda: “Barang siapa berjalan untuk memenuhi hajat saudaranya, baginya lebih baik dari pada i’tikaf selama sepuluh tahun, dan barang siapa i’tikaf satu hari karena mengharap keridhoaan Allah swt, maka Allah menjadikan tiga parit antara dia dan neraka, setiap paritnya lebih jauh dari pada jarak antara timur dan barat.” (Tobaroni dan Hakim, ia berkata shohihul isnad)

Dari hadits ini dapat diketahui dua keterangan yaitu:
Pertama, mengenai pahala i’tikaf satu hari, Allah Swt. akan menjauhkan antara orang itu dengan neraka Jahannam sejauh tiga parit, dan begitu jauhnya jarak antara satu parit dengan parit berikutnya sehingga melebihi jauhnya antara langit dan bumi. Semakin banyak hari-hari dia beri’tikaf, maka sebanyak itu pula dia akan mendapat kelebihan pahala. Allamah Sya’rani rah.a. meriwayatkan hadits Rasulullah saw. dalam kitabnya, Kasyful-Ghummah, bahwa barangsiapa yang beri’tikaf pada 10 hari bulan Ramadhan, maka baginya dua pahala haji dan dua pahala umrah. Dan barangsiapa beri’tikaf setelah shalat Maghrib hingga Isya dengan melaksanakan shalat, membaca al Quran, dan tidak berbicara dengan siapa pun, maka Allah Swt. akan membangunkan sebuah istana baginya di dalam surga.

Kedua, yang merupakan sesuatu yang lebih penting daripada yang pertama adalah menunaikan hajat-hajat (keperluan) orang Islam, yang disabdakan Rasulullah saw. lebih utama daripada beri’tikaf selama 10 tahun. Oleh karena itulah Ibnu Abbas r.a. tidak mempedulikan i’tikafnya. Karena dapat diganti dan mungkin dapat dikerjakan pada kesempatan lain. Oleh karena itulah para sufi berkata bahwa Allah Swt. sangat menghargai hati yang hancur, tidak seperti penghargaan-Nya kepada hal-hal lain. Inilah alasan mengapa dalam beberapa hadits diperingatkan agar behati-hati terhadap do’a orang yang dizhalimi.

Satu hal yang harus diperhatikan juga, apabila seseorang yang sedang beri’tikaf keluar dari masjid maka i’tikafnya menjadi batal, sekalipun keluarnya itu untuk menunaikan hajat saudaranya yang muslim. Apabila i’tikaf yang sedang dikerjakannya adalah i’tikaf wajib, maka wajib baginya untuk mengganti kembali (mengqadhanya). Rasulullah saw. tidak keluar dari masjid dalam masa i’tikaf kecuali untuk hajat kemanusiaannya (buang air atau untuk wudhu). Karena sifat itsarnya (sifat mengutamakan orang lain daripada diri sendiri).

Ibnu Abbas r. a. rela meninggalkan i’tikafnya, sama halnya seperti kejadian dalam suatu pertempuran, yaitu kisah seorang sahahat Nabi saw. yang hampir mati kehausan. Ia tidak mau meminum air yang diberikan oleh saudaranya sendiri demi sahabatnya yang tergeletak dan terluka parah dalam keadaan kehausan. Karena ia lebih mengutamakan sahabatnya daripada dirinya sendiri. Dalam hal ini, mungkin i’tikaf yang dikerjakan oleh Ibnu Abbas r.a pada saat itu adalah i’tikaf nafil, sehingga tidak perlu dipermasalahkan lagi mengenai alasan meninggalkan i’tikaf.

Masih ada waktu untuk mendapat pahala lebih baik dari 10 tahun I’tikaf

Masih ada waktu untuk meraih kebaikan dan keutamaan diatas, mari sisihkan sebagaian harta kita untuk berwakaf dan niatkan untuk membantu orang lain yang mengalami kesulitan, insya Allah akan dicatat kebaiakan oleh malakat dan tentunya akan mendapatkan pahala dari Allah SWT.

Berikut ini beberapa proyek wakaf yang dapat anda bantu untuk meringankan penderitaan yang dihadapi saudara-saudara kita yang kesulitan.

  1. Membantu warga desa Mauleum yang mengalami krisis Air bersih puluhan tahun https://ktbs.in/ksr-0
  2. Membantu warga di pulau terpencil dan pelosok nusantara mendapatkan Al Qur’an sebagai sumber utama belajar Islam https://ktbs.in/ubna4

Di akhir waktu Ramadhan 1438 H ini, semoga Allah menerima semua amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita serta menjadikan kita Istiqomah dalam melaksanakan kebaikan, memudahkan segala urusan kita di dunia dan di akhirat kelak. Aamiin yaa Robbal’alamiin..

Tulisan ini diinspirasi dari kitab Fadhilah Amal, karangan syaikh Muhammad Zakariya al Kandhalawi.

Depok 28 Ramadhan 1438 H – 23 Juni 2017.

 

Leave a Reply